Blog Archives
Me & Tisya’s ASI Story (Part 3)
Lanjut lagi nih ceritanya….(baca part 1 dan part 2-nya)
Tepat 1 Mei 2009 genap 6 bulan umur Tisya….dan selesai sudah perjalanan awal-ku dalam memberikan Tisya ASI ekslusif. Meski dalam perjalanan ASI eksklusif selama 6 bulan ini sempat ga mulus karena aku jatuh sakit, namun selebihnya alhamdulillah lancar-lancar saja tanpa menemukan kendala yang berarti. Maka dengan bangga aku nyatakan kalau Tisya berhasil lulus S1 ASIX, yeay, *jogetjoget-gulingguling*. Selanjutnya, aku berencana untuk tetap memberikan Tisya ASI meski dia sudah mulai diperkenalkan dengan makanan pendamping (MPASI). Di dalam dunia per-ASI-an, lanjutan S1 ASIX ini dikenal dengan program S2 ASIX (6-12 bulan) dan S3 ASIX (12-24 bulan).
Perjalanan S2 ASIX berlalu tanpa ada kendala, aku masih rajin pompa ASI untuk stok ASIP dan Tisya pun masih menyusui setelah aku pulang kantor dan weekend. Namun masalah mulai datang saat aku kembali dinyatakan ‘eligible’ untuk melakukan dinas keluar kota ataupun keluar negeri oleh rekan satu tim di kantor. Selama aku hamil dan pasca melahirkan ini, atasan2 dan kolega satu tim ku berbaik hati untuk tidak memberikanku tugas dinas keluar Jakarta (kalo ga urgent banget ya ga akan disuruh pergi). Ya semacam nice gestures aja dari mereka. Hal yang sama juga dilakukan kepada anggota tim lain jika lagi hamil. Kalau dinasnya cuma 2-3 hari sih masih bisa diatasinlah….so pasti ASInya dipompa aja, trus bawa chiller yang banyak biar tahan selama perjalanan pulang dari dinas. Nah masalahnya pas Tisya umur 13 bulan, aku dapet kesempatan untuk kursus 2 minggu di Singapura. Wah ketar-ketir juga nih …. bingung gimana persiapan untuk ASIPnya. Memang sih suplai ASI dari gentong udah ga sederas dulu,tapi tetap ada dan mengalir. Akhirnya aku cuma persiapan menyetok ASIP sebanyak-banyaknya aja sebelum tanggal keberangkatanku. Selama di Singapura, aku akan tetep mompa ASI dengan harapan akan langsung kukasih ke Tisya pas dia dan Papap nyusul di ujung minggu kedua. Read the rest of this entry
Me & Tisya’s ASI story (Part 1)
Sewaktu dinyatakan positif hamil 8 minggu pada awal Maret 2008, aku dan papap ngerasa bukan main senangnya. Rasa bersyukur tak henti-hentinya kami ucapkan ke Allah SWT, alhamdulillah Ya Rabbi. Sejak menikah pada mid Desember 2007, kami tak perlu menunggu lama untuk hamil. Hehehehe, tokcer berarti yeee ;p *blushing ga jelas*
Berhubung pengalaman dan pengetahuanku akan kehamilan maupun pasca melahirkan benar-benar nihil, maka mulailah browsing internet dan membeli buku tentang kehamilan, Inisiasi Menyusui Dini (IMD), Air Susu Ibu (ASI), Panduan menjadi Orangtua, dsb. Semua itu kulakukan demi menambah wawasan dan memperkaya ilmu menjadi seorang ibu
Sejak awal kehamilan, aku sudah berniat akan memberikan ASI eksklusif kepada bayiku selama aku masih mampu dan ASI itu masih menetes dari payudaraku. Niatku memang tergolong mantep dan gigih, apalagi setelah aku membaca berbagai informasi mengenai kebaikan dan manfaat dari ASI. ASI adalah cairan kehidupan terbaik yang sangat dibutuhkan oleh bayi. ASI mengandung berbagai zat yang penting untuk tumbuh kembang bayi dan sesuai dengan kebutuhannya. Terlebih lagi, menurut salah satu sumber yang kubaca, keberhasilan menyusui sudah ditentukan sejak dari awal-awal kehamilan. Wong ada susu yang siap sedia tinggal nyooot, kenapa harus repot bikin dari susu kaleng/suleng, ya tho?! Tentunya dengan asumsi semua berjalan dengan normal ya, dalam arti ASI-ku nantinya bisa mengalir dengan lancar dan cukup porsinya untuk sang bayi.




