3 jam yang tersia-siakan

Siapa yang menyangka, hari Senin 25 Okt kemaren, ternyata menjadi hari yang sangat melelahkan bagi hampir seluruh warga Jakarta. Mengapa begitu? Apalagi kalau bukan masalah klasik yang terus mendera warga Jakarta dari jaman jebot sampai sekarang, maceeeetttt alias traffic jam!!! Yang menjadi sumber kemacetan kemarin adalah derasnya hujan sejak jam 3 sore (mendekati jam pulang kantor) yang menyebabkan beberapa titik dan jalanan di Jakarta tergenang/banjir dan pada akhirnya lumpuh total.

Menarik juga mencermati fenomena banjir yang kerap melanda kota Jakarta tercinta kita ini. Apa itu banjir, kenapa bisa terjadi banjir, masa iya hujan lebat dalam waktu singkat selalu diikuti dengan banjir, adakah hubungannya dengan pengaruh global yang terjadi akhir2 ini, dan segudang pertanyaan lainnya. Adanya kecenderungan terjadi banjir besar dalam periode setiap 5-6 tahun merupakan suatu fenomena menarik dan tampaknya sudah menjadi ciri khas Jakarta. Ciri khas yang sangat tidak membanggakan …. hmpphhh. Di luar tahun tersebut, Jakarta tentu saja mengalami banjir tetapi dengan skala, dampak, dan eskalasi kerugian yang jauh lebih kecil. Kalau kita inget kembali ke periode tahun 1996, 2002, dan 2007, pasti masih lekat dalam ingatan kita bagaimana kondisi Jakarta sebagai kota metropolitan lumpuh total, tak berdaya diterjang hujan deras terus-menerus dan banjir kiriman dari kota tetangga. Kalau sudah begini, who’s to blame????

Kemarin malam di salah satu media jejaring sosial, twitter, timeline dipenuhi dengan kecaman dan hujatan kepada Gubernur Jakarta kita, bang Foke. Dari yang mulai ngatain si Bapak kerjaannya cuma ngerapiin kumis, kerja ga bener, sampe ada yang bikin jargon “We’ve been foked!” (loved this jargon actually, creative :-)). Namun, apakah benar kita langsung menunjuk dan menyalahkan bang Foke semata? Ya bisa jadi….tapi mungkin kita juga harus berkaca ke diri kita sendiri juga, have we done our part of the deal yet? Sebagai contoh, apakah kita SUDAH SELALU membuang sampah pada tempatnya sehingga turut berperan dalam mencegah terjadinya kebanjiran? Apakah kita SUDAH memaksimalkan penggunaan angkutan umum dan mengurangi pembelian kendaraan bermotor sehingga turut berperan dalam mengurangi jumlah kendaraan di jalan raya? Dan mungkin segudang hal-hal lain yang masih bisa kita lakukan sebagai bentuk peran kita untuk mencegah terjadinya kebanjiran dan kemacetan. Saya yakin pasti banyak yang mengeluh, “bagaimana mau pake kendaraan umum kalo ga nyaman/aman/umpel2an/dsb?”. Karena itu juga yang menjadi keluhan saya. Harus diakui, usaha penanggulangan masalah ini memang harus dilakukan dari dua sisi, baik dari warga Jakarta sendiri dan juga oleh PemKot. Masalah infrastruktur dan segala tetek bengek perbaikan drainase dan transportasi biarlah itu menjadi urusan PemKot, dan kita tetap fokus pada peran yang bisa kita sumbangkan (seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya). Tapi mungkin perlu kita inget….jangan terlalu muluk-muluk dan berharap kalau pada akhirnya nanti PemKot berhasil menciptakan suatu moda transportasi umum baru (misalnya monorail dan MRT) trus masalah jadi selesai dan macet pun hilang. Trus bermimpi bakal langsung jadi teratur kayak Singapura atau mungkin US. Jangan salah, disana juga ada yang namanya traffic jam lohh. Indonesia is all about the power of people. Rakyat kita banyak banget bo’ dan mayoritas tinggal di pulau Jawa dan bekerja di Jakarta. Jadi untuk men-teratur-kan suatu tatanan kota yang pada dasarnya udah amburadul dari dulunya, itu lebih susah dan merupakan tantangan tersendiri. Berbeda jika dulunya kota Jakarta itu udah direncanakan sedemikian rupa, well planned tatanan kotanya…mungkin kejadian2 seperti banjir dan macet ini dapat diminimalisir. Kebayang kan sekarang developer2 properti di Jakarta tampak seperti berlomba-lomba membangun apartemen ini-itu, bangun mall ini-itu, dll. Beuuuuhhh….dah ga tau kemana deh lahan untuk penyerapan air di Jakarta, hampir ga ada kali ya.

Oh ya…sedikit pengalaman petualanganku saat hari Senin kemarin….

Jam 3 sore, langit mendadak mendung dan diselimuti awan hitam pekat. “Pertanda hujan lebat nih, macet :(“, gumamku. Dan benaar, ga lama kemudian, hujan mulai turun deras bahkan disertai tiupan angin kencang. Beuuuhhh…..badaiii….harapan pulang tenggo pupus sudah. Tunggu punya tunggu, kok hujannya ga berhenti, malah cenderung makin deras. Berdasarkan pantauan dari gedung kantorku lantai 18 Thamrin, antrian mobil dan motor di sekitar bundaran Indosat dan Thamrin sudah mengular. Bahkan di beberapa titik seperti di depan Sarinah Thamrin, air pun udah menggenang sekitar 30-50cm, hrrrrrrr…. Gimana niy? Salah satu moda transportasi umum andalanku pun, TransJakarta, keberadaannya nyaris tak terlihat. Wah ga kebayang, pasti bisnya masih stuck dari ujung stasiun kotanya niy. Opsiku untuk naik TransJakarta pun pupus sudah, scratch that option !!! Jam 6 sore, si papap menelpon, nanyain jadinya gimana niy pulangnya, dah macet dan banjir dimana2. Akhirnya kami sepakat supaya papap nyamperin ke Thamrin aja lalu kita makan malem di sekitar sini dulu sambil nunggu kemacetan reda (yeaaah…rite?!). Jam 19.20 si papap akhirnya nyampe ke Thamrin, lalu kita dinner dulu di Burger King.

Tepat jam 20.38 kita bertolak dari Burger King Thamrin menuju perjalanan pulang ke Cinere. “Hayo….tebak kira2 sampe rumah jam berapa nih?”, begitulah penggalan pesan singkat yang ku-publish di twitter saat itu. Salah satu temanku, Oki, menyahut … “prediksi kamu sampe rumah kira2 jam 23.38”. Weckkkkkssssss….ya masa sih baru sampe rumah jam segitu pikirku. 10 Menit mobil berjalan, gw tertidur di mobil dan papap pun menyetir cuma ditemenin dengan alunan lagu band2 British. Kira2 jam 21.40an gw terbangun, sambil ngucek2 mata ngeliat jendela kiri dan kanan, sampe akhirnya gw membaca plang stasiun busway …. “Stasiun Karet”. Whaaaaaaaaattttttttttt???? Udah sejam lebih baru sampe Kareeeeeetttttt, alaaaamaaaaakkkk…. Pasrah aja deh kalo begini. Untungnya si papap, walaupun capek tapi mood-nya lagi bagus…jadi nyetirnya bisa sabar. Udah gw tawarin gantian nyetir tapi si papap ga mau, ya wes lah. Petualangan macet kita masih berlanjut sampe ngelewatin Kantor Walikota Jaksel – Prapanca. Beuuuhhh, jam 22.30 di daerah situ kok masih kayak suasana jam 6 sore, pinuh pisaaaaannn. Tapi selepas dari daerah situ, jalanan lancaaaaaaaar banget, langsung tancap gas deh…walhasil kita nyampe rumah jam 23.25, bagooooossssssshhhhhhhh. Yah begini ini lah nasib tinggal di the so called Metropolitan City….

One thought on “3 jam yang tersia-siakan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s