Me & Tisya’s ASI story (Part 1)

Sewaktu dinyatakan positif hamil 8 minggu pada awal Maret 2008, aku dan papap ngerasa bukan main senangnya. Rasa bersyukur tak henti-hentinya kami ucapkan ke Allah SWT, alhamdulillah Ya Rabbi. Sejak menikah pada mid Desember 2007, kami tak perlu menunggu lama untuk hamil. Hehehehe, tokcer berarti yeee ;p *blushing ga jelas*

Berhubung pengalaman dan pengetahuanku akan kehamilan maupun pasca melahirkan benar-benar nihil, maka mulailah browsing internet dan membeli buku tentang kehamilan, Inisiasi Menyusui Dini (IMD), Air Susu Ibu (ASI), Panduan menjadi Orangtua, dsb. Semua itu kulakukan demi menambah wawasan dan memperkaya ilmu menjadi seorang ibu🙂 Sejak awal kehamilan, aku sudah berniat akan memberikan ASI eksklusif kepada bayiku selama aku masih mampu dan ASI itu masih menetes dari payudaraku. Niatku memang tergolong mantep dan gigih, apalagi setelah aku membaca berbagai informasi mengenai kebaikan dan manfaat dari ASI. ASI adalah cairan kehidupan terbaik yang sangat dibutuhkan oleh bayi. ASI mengandung berbagai zat yang penting untuk tumbuh kembang bayi dan sesuai dengan kebutuhannya. Terlebih lagi, menurut salah satu sumber yang kubaca, keberhasilan menyusui sudah ditentukan sejak dari awal-awal kehamilan. Wong ada susu yang siap sedia tinggal nyooot, kenapa harus repot bikin dari susu kaleng/suleng, ya tho?! Tentunya dengan asumsi semua berjalan dengan normal ya, dalam arti ASI-ku nantinya bisa mengalir dengan lancar dan cukup porsinya untuk sang bayi.

Untungnya niatku ini didukung juga oleh si papap, yang tentunya menjadikan papap sebagai salah satu breastfeeding father. Istilah ini jangan diartikan kalau si papap akan memberikan susu pada anak seperti yang ibu2 lakukan ya, nda bisa kaleeee!!! Maksud dari istilah tersebut adalah berupa dukungan penuh dari seorang ayah kepada istrinya dalam proses menyusui. Seorang ayah memainkan peran yang sangat penting dalam keberhasilan menyusui seorang ibu (“The Breastfeeding Book”, Martha Sears, R.N., and William Sears, M.D.). Pasangan yang sensitif dan suportif adalah faktor yang menentukan kesuksesan proses menyusui. Dengan kata lain keberhasilan menyusui tidak terlepas dari usaha para ayah untuk menjadi breastfeeding father. Selain itu, niatku memberikan ASI eksklusif ini juga didukung oleh keluargaku dan juga keluarga mertua. Meskipun, mamiku dulu ga memberikanku asi eksklusif saat aku masih bayi, bukan berarti beliau jadi close minded dan tidak terbuka akan perkembangan baru. Mamiku dulu saat aku masih berumur 2 bulan, selain ASI beliau juga sudah memberikan buah pisang lembek ke aku, dan kebetulan I turn out to be just fine. Namun, beliau ga menjadikan hal tersebut sebagai suatu pembenaran, bahkan bagi mamiku kejadian jaman dulu itu menandakan betapa masih kurangnya sosialisasi mengenai pentingnya ASI eksklusif kepada para ibu muda. Padahal berdasarkan informasi terkini kan lambung bayi dibawah umur 6 bulan dikatakan masih sangat rentan dan sistem pencernaannya masih belum sempurna, sehingga ASI-lah yang dianggap merupakan sumber makanan yang paling pas. Dengan berkembangnya jaman, teknologi, dan riset2 terbaru, mamiku percaya saja dan mendukung niatku selama memang itu yang terbaik untuk si kecil nantinya, amiiin.

Tanggal 1 November 2008, selesai sudah penantianku selama 9 bulan, lahirlah putri kecilku bernama Latisya Zahra Hasibuan. Meski harus menjalani proses kelahiran secara c-sectio, namun proses Inisiasi Menyusui Dini (IMD) nya berjalan dengan sukses. Tisya berhasil menggapai sedikit demi sedikit mencari puting payudaraku dan berusaha melakukan latch-on. Cairan kolostrumku pun langsung keluar begitu selesai melahirkan, benar-benar syukur alhamdulillah. Tisya lahir dalam keadaan sehat sehingga aku tidak ada hambatan memberikan ASI untuknya. Rumah sakit tempatku melahirkan sangat pro-ASI dan bisa rooming-in atau rawat gabung sehingga makin mendukung usaha pemberian ASI eksklusif. Meski saat si bayi sedang ditaruh di kamar bayi pun, pihak rumah sakit tidak akan berani memberikan sufor tanpa seijin orangtuanya. Bahkan bagi ibu-ibu yang ASInya tidak langsung keluar sesaat setelah melahirkan, dianjurkan untuk menunggu sampai kurang lebih 2 hari sebelum ada pertimbangan pemberian sufor. Biasanya rumah sakit ada yang langsung berdalih nanti bayi kelaparanlah, dsb. Tapi dokter menyatakan umumnya bayi sehat yang baru lahir akan tahan tidak makan dan minum sampai dengan 2 hari (tentunya tetep harus dikontrol ya,karena kondisi setiap bayi kan berbeda).

Proses pemberian ASI selama 4 malam di rumah sakit berjalan dengan lancar. Produksi ASI-ku melimpah ruah, udah kayak air sungai yang terus mengalir, syukur alhamdulillah. Walaupun aku masih belum terbiasa bangun malem dan harus menyusui di tengah nyenyaknya tidur malem, namun semua itu langsung kulakukan dengan mudah. Nature instinct kali yaa…. Tentunya hal tersebut juga tidak lepas dari dukungan si papap yang kadang juga ikutan bangun malem dan bantuin menidurkan si bayi kembali. I couldn’t have done it without you babe…love you so dearly *smooch*

Nantikan kisah Me&Tisya’s ASI story pasca pulang dari rumah sakit (part 2) …

2 thoughts on “Me & Tisya’s ASI story (Part 1)

  1. Pingback: Me & Tisya’s ASI story (Part 2) | our lil' family as the Hasibuan's

  2. Pingback: Me & Tisya’s ASI Story (Part 3) | our lil' family as the Hasibuan's

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s