Normal vs C-Sectio

XX           : “Dulu lahirannya gimana mba, normal atau caesar?”

Me           : “Terpaksa caesar mba akhirnya”

XX           : “Kok caesar? Kenapa ga normal aja? Takut sakit ya?”

Me           : *males nanggepin lagi*

Endeske endesbre yaddi yadda bla bla bla ….

Lama-lama begah juga rasanya klo tiap kali ditanya gimana jalannya proses kelahiran Tisya dulu. Tiap kali dijawab klo aku melahirkan Tisya secara c-sectio, langsung deh banyak statement/pertanyaan mengikuti, ya kenapa ga gini lah ga gitulah. Hu uh….. *tarik nafas”. Belom lagi klo ada yang langsung men-judge aku akan tindakan c-sectio yang aku lakukan. Banyak orang berpikiran kalo ibu-ibu yang melakukan lahiran secara caesar itu karena takut sakit, ga mau repot, mau tetep rapet V-nya, mau melahirkan di tanggal cantik, etc. Ya elah plis deh ….. ya mungkin memang ada sebagian kecil para ibu yang memutuskan untuk melakukan tindakan c-sectio karena alasan yang barusan saya kemukakan, but then so what??? Suka-suka sang ibu dong …. wong anak mereka sendiri kok, who are we to judge. Tapi perlu diketahui juga ya, tidak semua ibu-ibu memutuskan untuk melakukan operasi c-sectio karena sudah direncanakan, contohnya seperti saya.

Ketentraman hati saya mulai terusik ketika ada yang secara ga sengaja membahas kelahiran c-sectio di sebuah grup bbm tempat saya juga ikut bergabung. Jadi ada seorang ibu muda, anggota baru, yang sedang hamil tua dan sedang mengalami bukaan satu (tapi proses bukannya lambat banget). Si ibu muda tsb menanyakan kepada anggota grup lain gimana bila nanti saat dia lahiran ternyata ada kemungkinan proses c-sectio mengingat kok sepertinya bukaannya ga nambah2. Para ibu lain langsung menanggapi, ada yang memberi tanggapan positif, memberikan semangat, namun ada juga yang memberikan opini namun cenderung menjelekkan opsi melakukan operasi caesar. Kurang lebih seperti inilah kalimat yang aku baca waktu itu … 

  1. Duh jeng, sebisa mungkin jangan caesar deh, kalo bisa lahiran normal ya dicoba aja dulu. Caesar itu cuma buat orang males.
  2. Ih klo nanti lahiran caesar, udahannya pasti sakit banget loh. Klo normal, paling 2-3 hari dah langsung bisa jungkir balik, kalo caesar bisa 2 minggu loh jeng bed restnya. Jadi si ibu ga bisa menyusui dengan baik tuh.
  3. Iya tuh mba, temenku ada yang caesar, selama 2 bulan bener2 ga bisa jalan….ga bisa ngapa-ngapain. Gerak sedikit sakit, dah gitu jaitannya ada yang kurang rapi pula. Bandingkan ama aku yang normal, langsung ces pleng dong.
  4. Ga maksud nakut2in ya mba, tapi dulu ada temenku yang melakukan operasi caesar, begitu dibius…si ibu ga bangun lagi, meninggal saat proses kelahiran. Duh jangan operasi deh klo bisa.
  5. Jangan caesar deh mba, merana banget ntar udahannya.
  6. …. dan berbagai komen-komen pedes bin silet lainnya…..

Sebagai seorang ibu yang dulu melakukan proses kelahiran secara caesar untuk anak pertamanya, aku merasa tersinggung banget dengan komen-komen tersebut. Entah bagaimana, aku kok jadi merasa dipojokkan setelah membaca komen-komen pedas itu. Hal yang sama juga dirasakan oleh anggota lainnya yang kebetulan melakukan c-sectio, sempet malah seperti terjadi dua kubu di grup bbm itu. Rempong yeee…

Kasus bagi setiap ibu yang melakukan proses caesar bisa berbeda-beda, tidak bisa digeneralisir seperti itu. Kebetulan saya salah satu ibu yang melalui operasi caesar dengan baik-baik saja. Jahitan operasi rapi; sempet mengalami rasa nyeri sekitar 2-3 hari tapi tetep bisa beraktivitas seperti biasa, apalagi menyusui tetap lancar kok. Namun memang ada juga kasus yang mengalami kendala saat pasca operasi caesar, seperti yang dialami saudara kakak ipar saya. Luka jahitan beliau tidak kunjung kering meski sudah 2 minggu pasca operasi caesar. Namun setelah ditelusuri, ternyata beliau alergi dengan bahan benang jahit yang digunakan, sehingga segera setelah diganti benang jahitnya masalah pun langsung hilang. Kalau ditanya mengenai risiko nya, saya berpendapat antara lahiran normal maupun c-sectio dua-duanya mengemban risiko yang sama besarnya. Karena risiko itu kembali ke kondisi masing-masing ibu, yang bisa berbeda antara satu ibu dengan yang lainnya. Proses melahirkan adalah suatu proses jihad bagi seorang ibu, antara hidup dan mati. Saya lebih setuju jika dikatakan proses pemulihan lahiran secara normal cenderung lebih cepat dibandingkan lahiran secara c-sectio. Saya rasa itu statement yang lebih masuk akal, adil, dan tidak berkesan men-judge pihak-pihak tertentu. Lagipula, baik caesar ataupun normal, sama-sama memerlukan waktu untuk pulih. Walaupun jahitan di luar sudah kering, namun kondisi rahim kita juga perlu waktu untuk kembali normal.

Pilihan seorang ibu untuk melakukan operasi caesar terkadang merupakan suatu keputusan spontan dimana sang ibu merasa tidak punya pilihan lain dan mempercayakan seutuhnya kepada opini/saran dokter karena menganggap saat itu, di waktu itu, dokter lah yang lebih tau dibandingkan kita. Bagi si ibu saat itu adalah bayinya bisa lahir dengan selamat…dengan cara apapun. Itulah yang aku alami saat kelahiran Tisya. Bukaanku mandek di bukaan 8, aku masih bersikeras untuk menunggu sampai bukaanya bisa mencapai 10. Namun kontraksi yang aku rasain justru menurun dan mulai lemah. Saat air ketuban dipecahkan pun sudah berubah menjadi hijau…dokter sempat menyuruhku untuk mengejan namun apa daya jalan lahirnya tetap kurang besar untuk sang bayi lewati. Sang dokter pun memberikan 2 opsi  yaitu dilakukan operasi caesar atau tetap menunggu perkembangan bukaannya dengan risiko dapat terjadi sesuatu dengan bayinya jika menunggu terlalu lama. Tentunya dokter tidak me-recommend opsi no. 2 tersebut. Saat itu, saya dan suami tidak mau ambil risiko dan bersikukuh untuk tetap lahiran normal, kami cuma berpikir yang penting bayi kami lahir dengan sehat dan selamat bagaimanapun caranya. Kami pun pasrah dan menyanggupi untuk melakukan operasi c-sectio.

There’s always a reason for every story, anyone else don’t get to judge our decision without knowing the reason behind it. In my humble opinion, mau caesar atau normal, mana yang terbaik buat ibu dan bayinya saja. Saya rasa itu poin yang terpenting …

7 thoughts on “Normal vs C-Sectio

    • Ya Alloh, iya deh… Kok pada begitu amat ya? Sedih baca-nya…😦 tiap orang kan beda kasus, beda sikon dan beda alasan….

      Tadi pagi saya baca tweetnya someone: “beberapa wanita selalu saja ngajakin berkompetisi (dgn wanita lain) dalam hal apapun, baik yg besar maupun yg kecil…”

  1. Fen,
    iya yah…jadi klo yang gw tangkep gini: klo orang nanya “melahirkannya normal atau sesar?”
    jawaban a “normal” … end of story
    jawaban b “sesar” … lalu either orang yang nanyain tadi ngelanjutin pertanyaan “kenapa sesar?” atau yang jawab kaya ditungguin untuk ngelanjutin jawabannya untuk menjelaskan kenapa dia sesar as if melahirkan sesar itu sesuatu yang perlu pembelaan.

    say “boooo” to judgemental people

  2. Gw ngakak baca statement orang-orang yang nanggapin soal c-sect. Kesamaannya adalah mereka semua TIDAK ADA yang mengalami proses c-sect itu sendiri. Jadi lebay kuadrat deh mereka. Prett..
    Aturan tanya c-sect itu gimana ya sama orang yang udah ngalamin c-sect. Lagipula bener kata Meta, kenapa ya perlu dijelaskan seakan-akan itu hal yang salah. Sikut semua orang yang judgemental.. :p
    Gw pribadi punya pengalaman, ada ibu yang super ngotot ngelahirin normal karena gak mau c-sect karena alasan2 diatas. Yang ada anaknya malah ketelen air ketuban (yang sudah keruh) dan harus masuk NICU selama 2 minggu. Ngeri kan.
    Normal or C-Sect buat gw sama-sama besar resikonya. Sama-sama berjuang. Yang penting itu ibu anak sehat. That’s it.

    • @ anggi : padahal apapun caranya, yang penting kan anak dan ibunya sehat. Toss dulu kitaa….
      @Tyka : apa udah nature nya wanita ya yg doyan berkompetisi? rempong yeee…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s