Imunisasi MMR yang ‘tertunda’

Kalau baca judulnya, kayaknya semua orang tua pasti akan langsung mengkaitkan dengan isu kontroversial antara autisme dan imunisasi MMR (Mumps, Measles, dan Rubella). Ya tapi emang begitu adanya kondisi isu yang sudah berkembang pesat ini. Sampai sekarang masih banyak orang tua yang menolak untuk meng-imunisasikan MMR ke anaknya karena ditakutkan setelah diimunisasi, anaknya akan menjadi autis. Akibatnya sang anak justru tidak mendapatkan perlindungan yang semestinya untuk menghindari penyakit tsb. Meski beberapa riset dan penelitian terkini, seminar baik nasional dan internasional telah membuktikan keadaan yang sebaliknya dan menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara imunisasi MMR dan autisme.

Secara lengkap….Imunisasi MMR adalah imunisasi kombinasi untuk mencegah penyakit Campak, Campak Jerman dan Penyakit Gondong. Pemberian vaksin MMR biasanya diberikan pada usia anak 16 bulan. Vaksin ini adalah gabungan vaksin hidup yang dilemahkan. Semula vaksin ini ditemukan secara terpisah, tetapi dalam beberapa tahun kemudian digabung menjadi vaksin kombinasi. Kombinasi tersebut terdiri dari virus hidup Campak galur Edmonton atau Schwarz yang telah dilemahkan, Componen Antigen Rubella dari virus hidup Wistar RA 27/3 yang dilemahkan dan Antigen gondongen dari virus hidup galur Jerry Lynn atau Urabe AM-9.Menanggapi isu tersebut, gw bisa dikatakan salah satu ibu yang berada di tengah-tengah kondisi tersebut. Gw bisa dibilang semi netral lah, karena gw sama sekali tidak menentang imunisasi MMR tapi juga masih tidak yakin akan adanya hubungan antara autisme dan imunisasi MMR. Gw banyak menggali informasi terkait benar tidaknya adanya hubungan MMR dengan autisme. Baik yang pro dan kontra, semua info gw baca … supaya gw dapat info from both sides before I jump to conclusion. Nah saat itu (tepatnya kurang lebih setahunan lalu), gw masih berasa overwhelmed dengan berbagai info yang gw baca itu. Dua sisi cerita menurut gw sama kuatnya sehingga pada akhirnya gw dan hubby memutuskan untuk menunda imunisasi MMR sampai ada keterangan lebih lanjut yang bisa lebih meyakinkan kami untuk mengambil keputusan. Padahal DSAnya Tisya dulu udah menceramahi gw panjang lebar bahwa sama sekali tidak ditemukan adanya bukti bahwa imunisasi MMR itu menyebabkan autisme, kebetulan DSAnya Tisya salah satu anggota forum sosialisasi MMR di IDI. Tapi entah kenapa dulu gw masih ragu.

Sampe suatu ketika, sekitar 3 minggu lalu, kita kunjungan lagi ke DSAnya Tisya untuk imunisasi Hep A. DSAnya Tisya ngingetin lagi klo Tisya belum MMR dan dia menjelaskan dengan kondisi sekarang, dia menyarankan sebaiknya imunisasi MMR dulu karena sekarang2 ini penyakit campak lagi mewabah di Indo. Which is true….di sekolah anaknya temen kantor gw di seputaran BSD, dari satu kelas pre school (kapasitas 15 orang) yang masuk sekolah cuma 3 orang karena pada kena wabah campak, termasuk gurunya, doeeeenggg. Nah ….nanti sebulan lagi baru kemudian imunisasi Hep A. Diingatkan lagi oleh DSAnya bahwa penyakit campak yang dimaksud di MMR ini bukan penyakit campak biasa pada umumnya, lebih berbahaya dan risikonya lebih tinggi dibandingkan dengan campak biasa. Di Indonesia, disepakati bahwa imunisasi MMR akan diberikan pada usia 2 tahun ke atas atau bila anak sudah lancar berbicara. Hal tersebut disepakati oleh forum para dokter di Indonesia untuk mencegah adanya dugaan bahwa setelah dilakukan imunisasi MMR maka muncul gejala2 awal autisme seperti gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi dan interaksi sosial.

Alhamdulillah, berselang 3 minggu setelah Tisya imunisasi MMR tidak ada perubahan apapun pada perilaku Tisya. Semua dalam keadaan normal seperti sedia kala dan insya Allah akan tetap terus sehat ya, amiiin. So untuk para orang tua, gw anjurkan untuk segeralah meng-imunisasi MMR ke anaknya setelah usianya 2 tahun atau bila sudah lancar berbicara. Insya Allah lebih banyak maslahatnya daripada mudharatnya …

Ini gw kutip beberapa info yang aku dapat di internet ya….

In the UK, the MMR vaccine was the subject of controversy after publication of a 1998 paper by Andrew Wakefield et al. reporting a study of twelve children who had bowel symptoms along with autism or other disorders, including cases where onset was believed by the parents to be soon after administration of MMR vaccine. In 2010, Wakefield’s research was found by the General Medical Council to have been “dishonest”,and The Lancet fully retracted the original paper.The research was declared fraudulent in 2011 by the British Medical Journal.Several subsequent peer-reviewed studies have failed to show any association between the vaccine and autism.The Centers for Disease Control and Prevention,the Institute of Medicine of the National Academy of Sciences,the UK National Health Service and the Cochrane Library review have all concluded that there is no evidence of a link between the MMR vaccine and autism.

Administering the vaccines in three separate doses does not reduce the chance of adverse effects, and it increases the opportunity for infection by the two diseases not immunized against first. Health experts have criticized media reporting of the MMR-autism controversy for triggering a decline in vaccination rates. Before publication of Wakefield’s findings, the inoculation rate for MMR in the UK was 92%; after publication, the rate dropped to below 80%. In 1998, there were 56 measles cases in the UK; by 2008, there were 1348 cases, with 2 confirmed deaths. In Japan, the MMR vaccination has been discontinued, with single vaccines being used for each disease. Rates of autism diagnosis have continued to increase, showing no correlation with the change.

PERNYATAAN-PERNYATAAN PENTING SEPUTAR VAKSIN MMR & AUTISME

1. <http://www.aventispasteur.co.id/artikel_004.htm>

Pernyataan dari Departemen Kesehatan RI, Badan POM dan Ketua IDAI: Berdasarkan kajian tersebut diatas, Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial, Badan Pengawas Obat dan Makanan, dan Ikatan Dokter Anak Indonesia mengambil kesimpulan bahwa tidak ada kaitan antara kejadian autisme pada anak dengan imunisasi MMR.

2.   Pernyataan dari Badan Kesehatan Dunia/WHO:

      a. Pernyataan WHO: MMR tidak ada hubungannya dengan Autisme.

         http://www.who.int/vaccinesdiseases/safety/hottop

      b. Posisi WHO terhadap isu MMR & Autisme.

         http://www.who.int/inf-pr-2001/en/state2001-02.html

      c. Tanya jawab seputar MMR & Autisme.

         http://www.who.int/vaccines-diseases/safety/infobank/autism.shtml

3.   Pernyataan dan telaah Autisme dari CDC-Atlanta:

      http://www.cdc.gov/nip/vacsafe/concerns/autism

Bobot dari bukti-bukti ilmiah yang saat ini ada tidak mendukung hipotesa bahwa vaksin menyebabkan autisme. Kami mengerti bahwa ketertarikan publik terhadap isu ini, dan oleh sebab itu mendukung riset tambahan terhadap hipotesa ini. CDC berkomitmen untuk menjaga keamanan, vaksin yang sangat efektif yang disuplai sepanjang sejarah.

4.   Pernyataan dari American Academy of Pediatrics:

      http://www.aap.org/advocacy/washing/23apr01.htm

American Academy of Pediatrics secara berkesinambungan merekomendasi para orang tua untuk memvaksinasi penuh anak-anaknya untuk mencegah penyakit yang berbahaya seperti campak. Walaupun ada usulan beberapa orang agar kombinasi MMR dipisah, menurut kami tidak ada alasan untuk melakukan hal tsb.

5.   Studi telaah artikel ilmiah dari American Medical Association:

      http://www.ama-assn.org/ama/pub/article/1824-6108.html

Mempelajari studi-studi dari (1) genetika autisme; (2) saat (timing) dari gejala pertama autism (home-movie studies); (3) hubungan antara autisme dan penerimaan vaksin MMR; (4) Hispatologi dari susunan saraf pusat pada anak-anak dengan autisme; dan (5) thalidomide, infeksi rubella alamiah, gejala kerapuhan X, dan sclerosis tuberus. Studi-studi tersebut diatas mendukung fakta bahwa autisme muncul selama perkembangan dari susunan sarap pusat pada waktu janin /semasa dini di uterus.

6.   Buku yang mengupas secara lengkap isu mengenai MMR & Autisme (102 halaman): http://www.nap.edu/catalog/10101.html

3 thoughts on “Imunisasi MMR yang ‘tertunda’

  1. Update juga waktu gw ikut PESAT dikasih tau, bahwa yang pertama kali mempublikasikan riset bahwa anak MMR bisa jadi autis telah mencabut publikasinya karena memang tidak terbukti, dan penelitian tersebut terbukti tidak valid..🙂

  2. Halo mom, salam kenal. Sebulan lg anak saya waktuny dapet MMR. Ada keluarga yang bilang jangan karena bisa mengakibatkan autis.

    Nah kalau dari pengalaman mom, si Tisya ini disuntik umur 2 thn lebih ya? Soalnya kan jadwalnya 16-18 bulan, jd gpp kan?

    Kemudian dalam konteks “bisa bicara” itu spt apa ya? Skrg baby saya umur 16 bln sudah bisa ngomong 1-2 kata dan banyak kalimat ga jelas lainnya. Apakah itu termasuk bisa bicara?

    • Salam kenal mom…
      Iya mom betul, Tisya baru diimunisasi MMR setelah umur 2 tahun karena dulu saya blm yakin akibat adanya cerita2 ttg korelasi dengan autisme. Yang pada akhirnya ternyata korelasi tsb tidak terbukti.
      Bisa bicara di tulisan saya maksudnya sudah bisa berbicara meski terbata2 dan belum jelas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s